Tugas 6: Pendekatan manajemen kelas
A.
Pengertian Pendekatan Manajemen
Kelas
Keharmonisan hubungan guru dan
siswa, tingginya kerjasama di antara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi.
Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan
dalam rangka pengelolaan kelas. (Djamarah 2006:179) Pendekatan yang dipilih
guru senantiasa diselaraskan dengan kebutuhandan karakteristik siswa.
Pendekatan pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu pendekatan manajerial
dan pendekatan psikologikal.
Manajemen dari kata “ Management “.
Diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya
secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang
memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan
pencapaian tujuan. Maksud manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan
suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat
belajar dengan efektif. Suharsimi Arikunto (1988) suatu usaha yang dilakukan
guru untuk membantu menciptkan kondisi belajar yang optimal. Pengertian lain
dikemukaan sebagai proses seleksi tindakan yang dilaljukan guru dalam funsinya
sebagai penanggung jawab kelas dan seleksi penggunaan alat-alat belajar yang
tepat sesuai masalah yang ada dan karakteristik kelas yang dihadapi.
Pendekatan yang dipilih guru
senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Pendekatan
pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu pendekatan manajerial dan
pendekatan psikologikal. Secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pendekatan Manajerial. Upaya penyelenggaraan pembelajaran
dengan menitikberatkan pada upaya guru untuk mengatur dan mengorganisasi siswa
sesuai dengan persepsi guru terhadap siswa, dengan kata lain pendekatan ini
dipilih berdasar orientasi guru dan ketercapaian target kurikulum yang harus
diselesaikan. Pendekatan ini meliputi:
1. Pendekatan Kekuasaan atau Otoriter
Pendekatan otoriter adalah pendekatan yang menempatkan guru
dalam peranan menciptakan dan memelihara ketertiban di kelas dengan menggunakan
strategi pengendalian. Guru otoriter bertindak untuk kepentingan siswa dengan
menerapkan disiplin yang tegas. Bila timbul masalah-masalah yang
merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
a. Perintah dan Larangan
Baik perintah maupun larangan dapat diterapkan atas dasar
generalisasi masalah-masalah pengelolaan kelas tertentu. Seorang guru yang melaksanakan
perintah dan larangan bersikap reaktif, namun jangkauannya hanya terbatas
pada masalah-masalah yang timbul sewaktu-waktu saja, sehingga
kemungkinan timbulnya masalah pada masa mendatang kurang dapat dicegah atau
ditanggulangi secara tepat.
b. Penekanan dan Penguasaan
Pendekatan penekanan dan penguasaan ini banyak mementingkan
pada diri guru, banyak memerintah, mengomel dan memarahi. Bila dalam
menghadapi masalah pengelolaan kelas menggunakan pendekatan penguasaan dan
penekanan, maka memungkinkan siswa untuk diam, tertib karena takut dan tertekan
hatinya. Meskipun demikian, namun pendekatan ini kurang tepat
karena kurang toleransi, dan kurang bijaksana.
c. Penghukuman dan Pengancaman
Pendekatan penghukuman muncul dalam berbagai bentuk tingkah
laku antara lain penghukuman dengan kekerasan, dengan larangan bahkan
pengusiran, menghardik atau menghentak dengan kata-kata yang kasar,
mencemooh menertawakan atau menghukum seseorang di depan siswa lain, memaksa
siswa untuk meminta maaf, memaksa dengan tuntutan tenentu, atau bahkan dengan
ancaman-ancaman. Pendekatan semacam ini termasuk penanganan yang kurang
tepat, karena bersifat otoriter kurang manusiawi.
B.
Sikap Guru
dalam Manajemen Kelas
Untuk memperkecil masalah gangguan dalam
pengelolaan kelas hendaknya guru bersikap seperti yang dikemukakan oleh
Djamarah (2006 : 185) yaitu (1) Hangat dan antusias, guru yang hangat dan akrab
pada siswa akan menunjukkan antusias pada tugasnya, (2) Menggunakan kata –
kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan
kegairahan siswa untuk belajar, (3) Bervariasi dalam penggunaan alat atau media
pola interaksi antara guru dan siswa, (4) Guru luwes untuk mengubah strategi
mengajarnya, (5) Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan
menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif dan (6) Guru harus
disiplin dalam segala hal.
Tipe kepemimpinan yang otoriter harus diubah
menjadi lebih demokratis karena tipe kepemimpinan otoriter menumbuhkan sikap
agresif tetapi siswa hanya aktif kalau ada guru dan kalau guru yang demokratis
maka semua aktivitasnya akan menurun. Tipe kepemimpinan guru yang demokratis
lebih mungkin terbinanya sikap persahabatan guru dan siswa dengan dasar saling
mempercayai. Untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal guru
harus menempatkan diri sebagai model, pengembang, perencana, pembimbing dan
fasilitator.
Guru sebagai pengelola kelas sudah menerapkan
tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas yaitu pendekatan kekuasaan, pendekatan
pengajaran dan pendekatan kerja kelompok. Pendekatan kekuasaan seperti yang
diuraikan oleh Djamarah ( 2006 : 179 ) guru menciptakan dan mempertahankan
situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut siswa
untuk mentaatinya. Di dalam kelas ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk
ditaati anggota kelas. Pendekatan pengajaran, pendekatan ini didasarkan atas
suatu anggapan bahwa dalam perencanaan dan pelaksanaannya akan mencegah
munculnya masalah tingkah laku siswa dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa
dicegah. Pendekatan kerja kelompok, dalam pendekatan ini guru menciptakan
kondisi – kondisi yang memungkinkan kelompok yang produktif, selain itu guru
juga harus dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik.
Ketiga pendekatan tersebut oleh guru
digabungkan digunakan untuk mengelola kelas. Sehingga tercipta pendekatan
elektis atau pluralistic. Menurut Djamarah ( 2006 : 18 ) Pendekatan elektis
yaitu guru kelas memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang
dihadapi dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi
yang lain mungkin mengkombinasikan ketiga pendekatan tersebut. Penggabungan ketiga
pendekatan ini dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi
proses belajar mengajar bejalan efektif dan efisien.
C.
Peran Guru
dalam Manajemen Kelas
Pengelolaan
kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar
yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar
mengajar. Dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan
mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses
belajar-mengajar.
Suatu
kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan
sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk
mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru
dan siswa, siswa dengan siswa, itu merupakan syarat keberhasilan pengelolaan
kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi
terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.
Prinsip
Penggunaan
1.
Kehangatan dan keantusiasan
2.
Tantangan
3.
Bervariasi
4.
Keluwesan
5.
Penekanan pada hal-hal yang
positif
6.
Penanaman disiplin diri.
Dalam
perannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru hendaknya mampu
mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari
lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi, lingkungan ini diatur dan diawasi
agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan.
Pengawasan terhadap belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana
lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik
adalah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan
rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
Tujuan
umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk
bermacam-macam kegiatan belajar dan mengajar agar mencapai hasil yang
baik. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa
dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh
hasil yang diharapkan. Peran guru pada pada kegiatan belajar siswa sangat
menentukan prestasi siswa, pada pembahasan pengelolaan kelas yang lalu
menekankan sangat pentingnya pengelolaan kelas khususnya dalam menciptakan
suasana pembelajaran yang menarik.
Itu
karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni
pengajaran dan pengelolaan kelas. Tugas sekaligus masalah pertama, yakni
pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses
pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya
tujuan pembelajaran.
Kegagalan
seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan
ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti
prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran
yang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru
yang sangat penting dikuasai dalam rangka proses pembelajaran. Karena itu
setiap guru dituntut memiliki kemampuan dalam mengelola kelas.
Proses
belajar mengajar di dalam kelas hakikatnya akan melibatkan semua unsur yang ada
di dalam sekolah yang bersangkutan akan tetapi secara langsung akan terlibat
hal-hal sebagai berikut :
a.
Guru sebagai pendidik
b.
Murid sebagai yang dididik
c.
Alat-alat yang dipakai
d.
Situasi dalam dan lingkungan kelas
e.
Kelas itu sendiri
f.
Dan lain-lain yang sewaktu-waktu
terjadi.
Dalam
pengelolaan kelas selanjutnya, maka guru melalui pimpinan sekolah harus
mengadakan kegiatan-kegiatan antara lain :
1.
Menyusun kelasnya dengan baik
2.
Menyusun jadwal pelajaran
3.
Merencanakan aktifitas kelas bagi murid
dengan bimbingan guru
4.
Guru dalam melaksanakan tugas harus
terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan bahan-bahan pelajaran sebelum berdiri
di depan kelasnya
5.
Guru menciptakan situasi kelas yang
baik.
D.
Macam-macam
Pendekatan dalam Manajemen Kelas
a.
Pendekatan
Otoriter
Pendekatan otoriter memandang bahwa
manajerial kelas sebagai suatu pendekatan pengendalian perilaku peserta didik
oleh guru. Pendekatan ini menempatkan guru dalam peranan menciptakan dan
memelihara ketertiban di kelas dengan menggunakan strategi pengendalian. Tujuan
guru yang utama ialah mengendalikan perilaku peserta didik. Guru bertanggung
jawab mengendalikan perilaku peserta didik karena gurulah yang paling
mengetahui dan berurusan dengan peserta didik. Tugas ini sering dilakukan guru
dengan menciptakan dan menjalankan peraturan dan hukuman.
Pendekatan otoriter janganlah dipandang
sebagai strategi yang bersifat mengintimidasi. Guru yang mempraktekkan
pendekatan otoriter tidak memaksakan kepatuhan, merendahkan peserta didik, dan
tidak bertindak kasar. Guru otoriter bertindak untuk kepentingan peserta didik
dengan menerapkan disiplin yang tegas.
Pendekatan otoriter menawarkan lima
strategi yang dapat diterapkan dalam memanajemeni kelas yaitu (1) menetapkan
dan menegakkan peraturan, (2) memberikan perintah, pengarahan, dan pesan, (3)
menggunakan teguran, (4) menggunakan pengendalian dengan mendektai, dan (5)
menggunakan pemisahan dan pengucilan.
b.
Pendekatan
Intimidasi
Pendekatan intimidasi adalah pendekatan yang memandang
manajemen kelas sebagai proses pengendalian perilaku peserta didik. Berbeda
dengan pendekatan otoriter yang menekankan perilaku guru yang manusiawi,
pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku guru yang mengintimidasi.
Bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang kasar, ejekan, hinaan,
paksaan, ancaman, menyalahkan. Peranan guru adalah memaksa peserta
didik berperilaku sesuai dengan perintah guru.
Pendekatan intimidasi berguna dalam
situasi tertentu dengan menggunakan teguran keras. Teguran keras adalah
perintah verbal yang keras yang diberikan pada situasi tertentu dengan maksud
untuk segera menghentikan perilaku siswa yang penyimpangannya berat. Misal,
guru memergoki dua peserta didik berkelahi.kemudian guru bertindak “berhenti”
dengan harapan setelah mendengar suara guru kedua peserta didik itu akan
berhenti berkelahi. Kehadiran guru membuat mereka takut, takut karena mereka
membayangkan akan memperoleh hukuman yang sangat berat. Dengan demikian,
pendekatan intimidasi hanya baik untuk menghentikan perbuatan yang salah berat
dengan segera. Apabila perbuatan salah itu selesai atau berhenti maka tindakan
intimidasi tidak akan seproduktif strategi lain.
c. Pendekatan Permisif
Pendekatan permisif adalah pendekatan
yang menekankan perlunya memaksimalkan kebebasan siswa. Tema sentral dari
pendekatan ini adalah: apa, kapan, dan dimana juga guru hendaknya membiarkan
peserta didik bertindak bebas sesuai dengan yang diinginkannya. Peranan guru
adalah meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab dengan itu akan membantu
pertumbuhannya secara wajar. Campur tangan guru hendaknya seminimal mungkin,
dan berperan sebagai pendorong mengembangkan potensi peserta didik secara
penuh.
Pendekatan permisif sedikit
penganjurannya. Pendekatan ini kurang menyadari bahwa sekolah dan kelas adalah
sistem sosial yang memiliki pranata-pranata sosial. Dalam sistem sosial para
anggotanya, dalam hal ini guru dan peserta didik menyandang hak dan kewajiban.
Mereka diharapkan bertindak sesuai dengan hak dan kewajibannya dan diterima
oleh semua pihak. Perbuatan yang bebas tanpa batas akan memerkosa dan mengancam
hak-hak orang lain.
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa
pendekatan permisif dalam bentuknya yang murni tidak produktif diterapkan dalam
situasi atau lingkungan sekolah dan kelas. Namun disarankan agar guru
memberikan kesempatan kepada para peserta didik melakukan urusan sendiri
apabila hal itu berguna. Urusan itu seperti para peserta didik memperoleh
kesempatan secara psikologis, memilkul risiko yang aman, mengatur kegiatan
sekolah sesuai cakupannya, mengembangkan kemampuan memimpin diri sendiri,
disiplin sendiri, dan tanggung jawab sendiri. Dengan demikian, guru harus dapat
menemukan cara untuk memberikan kebebasan sebesar mungkin kepada peserta didik
di satu sisi, di sisi lain tetap dapat mengendalikan kebebasan itu dengan penuh
tanggung jawab.
d.
Pendekatan
Buku Masak
Pendekatan buku masak adalah pendekatan berbentuk
rekomendasi berisi daftar hal-hal yang harus dilakukan atau yang tidak harus
dilakukan oleh seorang guru apabila menghadapi berbagai tipe masalah manajemen
kelas. Daftar tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus
dilakukan ini biasanya dapat ditemukan dalam artikel: Tiga puluh cara untuk
memperbaiki perilaku peserta didik, misalnya karena daftar ini sering merupakan
resep yang cepat dan mudah, pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan “buku
masak”. Berikut ini adalah cotoh khas jenis pernyataan yang dapat dijumpai
dalam daftar “buku masak”
Selalulah menegur siswa secara empat mata
Jangan sekali-kali meninggikan suara pada saat waktu
memperingatkan siswa
Tegas dan bertindak adil sewaktu berurusan dengan siswa
Jangan pandang bulu dalam memberikan penghargaan
Senantiasalah meyakinkan diri lebih dahulu akan kesalahan
siswa sebelum menjatuhkan hukuman
Selalulah meyakinkan diri bahwa siswa mengetahui semua
peraturan yang ada
Tetaplah konsekuen dalam menegakkan peraturan
e.
Pendekatan
Instruksional
Pendekatan instruksional adalah pendekatan yang mendasarkan
kepada pendirian bahwa pengajaran yang dirancang dan dilaksanakan dengan cermat
akan mencegah timbulnya sebagian besar masalah manajerial kelas. Pendekatan ini
berpendapat bahwa manajerial yang efektif adalah hasil perencanaan pengajaran
yang bermutu. Dengan demikian peranan guru adalah merencanakan dengan kebutuhan
dan kemampuan setiap peserta did
Oleh karena itu, para pengembang pendekatan instruksional
menyarankan guru dalam mengembangkan strategi manajemen kelas memperhatikan
hal-hal berikut ini: 1) menyampaikan kurikulum dan pelajaran yang menarik,
relevan, dan sesuai, 2) menerapkan kegiatan yang efektif, 3) menyediakan daftar
kegiatan rutin kelas, 4) memberikan pengarahan yang jelas, 5) menggunakan
dorongan yang bermakna, 6) memberikan bantuan mengatasi rintangan, 7)
merencanakan perubahan lingkungan, 8) mengatur kembali struktur situasi.
f.
Pendekatan
Pengubahan Perilaku
Pendekatan pengubahan perilaku
didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi behaviorisme. Prinsip utama yang
mendasari pendekatan ini adalah perilaku merupakan hasil proses belajar.
Prinsip ini berlaku baik bagi perilaku yang sesuai maupun perilaku yang
menyimpang. Penganjur pendekatan ini berpendapat bahwa seorang peserta didik
berperilaku menyimpang adalah disebabkan oleh salah satu dari dua alasan
berikut: 1) peserta didik telah belajar berperilaku yang tidak sesuai, atau 2)
peserta didik tidak belajar berperilaku yang sesuai.
Pendekatan pengubahan perilaku dibangun
atas dasar dua asumsi utama yaitu: 1) empat proses dasar belajar, 2) pengaruh
kejadian-kejadian dalam lingkungan. Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan
empat prinsip dasar belajar. Prinsip tersebut adalah penguatan positif,
hukuman, penghentian, dan penguatan negatif.
g.
Pendekatan
Iklim Sosio-Emosional
Pendekatan iklim sosio-emosional dalam
manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan klinikal, dan karena itu
memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar pribadi. Pendekatan ini
dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif (dan pengajaran
yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang positif antara guru dan
peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antar dan iklim kelas.
Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun
hubungan antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio-emosional yang
positif pula.
Glasser mengemukakan delapan langkah
untuk membantu peserta didik mengubah perilakunya berikut ini.
-
Secara pribadi melibatkan diri dengan siswa; menerima
siswa tetapi bukan kepada perilakunya yang menyimpang; menunjukkan kesediaan
membantu siswa memecahkan masalah.
-
Perilaku siswa; menangani masalah tetapi tidak menilai
atau menghakimi siswa.
-
Membantu siswa membuat penilaian atau pendapat tentang
perilakunya yang menjadi masalah itu. Pusatkan perhatian kepada apa yang
dilakukan oleh siswa yang menimbulkan masalah dan yang meyebabkan kegagalannya.
-
Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik;
jika perlu berikan alternatif-alternatif; bantulah siswa membuat keputusan
sendiri berdasarkan penilaiannya atas alternatif-alternatif yang ada untuk
mengembangkan perasaan tanggung jawab sendiri.
-
Membimbing siswa mengikatkan diri dengan rencana yang
telah dibuatnya.
-
Mendorong siswa sewaktu melaksanakan rencananya dan
memelihara keterikatannya dengan rencana tersebut; yakinkan siswa bahwa guru
mengetahui kemajuan-kemajuan yang dibuatnya.
-
Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila siswa gagal
meneruskan keterikatannya; bantulah ia memahami bahwa ia sendirilah yang
bertanggung jawab atas perilakunya; ingatkan siswa akan perlunya rencana yang
lebih baik; menerima pernyataan maaf berarti tidak memusingkan masalah siswa.
-
Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajar
dari perilakunya yang menyimpang tetapi jangan menghukumnya; bantulah siswa
mencoba lagi menyusun rencana yang lebih baik dan mengikatkan diri dengan
rencana tersebut.
Sementara itu
Dreikurs dalam kaitan dengan pendekatan sosio-emosional mengemukakan
gagasan-gagasan penting yang mempunyai implikasi bagi manajemen kelas yang
efektif. Dua diantaranya ialah: 1) penekanan pada kelas yang demokratis dimana
siswa dan guru berbagi tanggung jawab, baik dalam proses maupun dalam langkah
maju, 2) pengakuan akan pengaruh konsekuensi wajar dan logis atas perilaku
siswa.
h.
Pendekatan
Proses Kelompok
Premis utama yang mendasari pendekatan proses kelompok
didasarkan pada asumsi-asumsi barikut: 1) kehidupan sekolah berlangsung dalam
lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas, 2) tugas pokok guru adalah
memnciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif, 3) kelompok
kelas adalah suatu system social yang mengandung cirri-ciri yang terdapat pada
semua system social, 4) pengelolaan kelas oleh guru adalah menciptakan dan
memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana belajar yang
menguntungkan.
Schmuck dan Schmuck dalam Weber mengemukakan enam cirri
mengenai manajemen kelas yaitu: harapan, kepemimpinan, daya tarik, norma,
komunikasi, dan keterpaduan.Harapan adalah persepsi yang dimiliki oleh guru dan
siswa mengenai hubungan mereka satu sama lain. Kepemimpinan paling tepat
diartikan sebagai perilaku yang membantu kelompok bergerak menuju pencapaian
tujuannya.
Daya tarik, menunjuk pada pola-pola persahabatan dalam
kelompok kelas. Daya tarik dapat digambarkan sebagai tingkat persahabatan yang
terdapat di antara para anggota kelompok kelas. Tingkat daya tarik tergantung pada
sejauh mana hubungan antar pribadi yang positif telah berkembang. Pengelola
kelas yang efektif ialah seseorang yang membantu mengembangkan hubungan antar
pribadi yang positif antara para naggota kelompok.
Keterpaduan adalah menyangkut perasaan
kolektif yang dimiliki oleh para anggota kelas mengenai kelompok kelasnya.
Keterpaduan menekankan hubungan individu dengan kelompok sebagai suatu
keseluruhan. Kelompok menjadi padu karena alas an: 1) para anggota saling
menyukai satu sama lainnya, 2) minat yang besar terhadap pekerjaan, 3) kelompok
memberikan harga diri kepada para anggotanya.
i.
Pendekatan
Eklektik
Menyimak secara seksama kedelapan pendekatan yang telah
diuraikan di muka adalah ibarat melihat benda yang sama dari berbagai sudut
pandangan yang berbeda. Oleh karena itu, seorang guru harus mengetahui kekuatan
dan kelemahan masing-masing pendekatan ketika akan menerapkan satu pendekatan.
Dalam kenyataan guru jarang sekali menerapkan satu pendekatan secara utuh,
melainkan mengkombinasikan masing-masing pendekatan dengan mengambil hal-hal
yang positif dari satu pendekatan seraya mengeliminir kelemahan masing-masing
pendekatan. Wilford A. Weber menyatakan bahwa pendekatan dengan cara
menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagai pendekatan manajemen kelas untuk
menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara
filosofis, teoritis, dan/atau psikologis dinilai benar, yang bagi guru
merupakan sumber pemilihan perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan
situasi disebut pendekatan eklektik (Wilford A. Weber, 1986).
Dua syarat yang perlu dikuasai oleh
guru dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu: 1) menguasai
pendekatan-pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan
Pengubahan Perilaku, Penciptaan Iklim Sosio-Emosional, Proses Kelompok, dan 2)
dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai
dengan baik dalam masalah manajemen kelas ( M. Endang dan T. Raka Joni, 1983:
43)
Simpulannya adalah bahwa kemampuan guru
memilih strategi manajemen kelas yang sangat tergantung pada kemampuannya
menganalisis masalah manajemen kelas yang dihadapinya. Pendekatan Perubahan
Tingkah Laku dipilih, misalnya bila tujuan tindakan manajemen kelas yang akan
dilakukan adalah menguatkan tingkah lakupeserta didik yang baik dan/atau
menghilangkan perilaku peserta didik yang kurang baik; pendekatan Penciptaan
Iklim Sosio-Emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan manajemen kelas
adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru dan peserta didik; sementaa itu
pendekatan Proses Kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan
kegiatan secara produktif.
j.
Pendekatan
Analitik Pluralistik
Berbeda dengan pendakatan eklektik,
pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memilih strategi
manajemen kelas atau gabungan beberapa strategi dari berbagai pendekatan
manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil menanggulangi
masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis. Guru yang
bijaksana menghargai pendekatan dan strategi manajemen kelas yang mempunyai
konsep yang baik. Dengan demikian, pendekatan analitik pluralistik memperluas
jangkauan pendekatan. Pendekatan analitik pluralistik berupa pemilihan
diantara berbagai strategi manajemen kelas suatu atau beberapa strategi yang
mempunyai kemungkinan menciptakan dan menampung kondisi-kondisi yang memberi
kemudahan kepada pembelajaran yang efektif dan efisien.
Pendekatan analitik pluralistik tidak
mengikat guru pada serangkaian strategi manajerial tertentu saja. Guru bebas
mempertimbangkan semua strategi yang mungkin efektif. Terdapat empat tahap
pendekatan analitik pluralistik yang perlu dicermati dalam penggunaannya :
-
Menentukan kondisi kelas yang
diinginkan
-
Menganalisis kondisi kelas yang
nyata
-
Memilih dan menggunakan strategi
pengelolaan
-
Menilai efektivitas pengelolaan
Daftar Rujukan
Ekosiswoyo,
Rasdi dan Maman Rachman. 2002. Manajemen Kelas. Semarang : IKIP Semarang Press
Racman,
Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Salman,
Rusydi. 2011. Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas. Jakarta : Diva Press
Cet
Pertama 2011 Izzavcon-blogspot.com//obpendekatan-manajemen-kelas.html https :
//tutimahl.wordpress.com
Materinya sangat bermnfaat
BalasHapusMaterinya bagus dan bermanfaat kak
BalasHapusBagus kak, dan sangat membantu kak 🙏
BalasHapusSangat bermanfaat kaka
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat kakak👍
BalasHapusbermanfaat dan bagus sekali, terimakasih
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus