Tugas 5: Komponen keterampilan manajemen kelas
A.
Pengertian Komponen Keterampilan
Kelas
Pada dasarnya, terdapat
banyak sekali komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas yang harus
diperhatikan oleh seorang guru dalam memanajemen kelasnya. Akan tetapi untuk
mempermudah pemahaman kita, maka komponen-komponen keterampilan pengelolaan
kelas itu dapat digolongkan ke dalam 2 kelompok besar. Kedua kelompok besar
komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas itu adalah:
1.
Keterampilan yang berkaitan dengan
penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
2.
Keterampilan yang berkaitan dengan
pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Sekarang marilah kita
bahas lebih lanjut satu persatu tentang kedua kelompok komponen keterampilan
pengelolaan kelas ini. Pengelolaan kelas terdiri
dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelola sendiri akar katanya
adalah “kelolah” di tambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan
adalah “ manajemen” . manajemen adalah kata yang di adopsi dari bahasa inggris,
yaitu management, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.
Pengelolaan
kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977)
diklasifikasikan kedalam tiga pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter
(autorityapproach), pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan
modifikasi tingkah laku. Berikut dijelaskan pengertian masing-masing
pendekartan tersebut.
1.
Berdasarkan pendekatan otoriter (
authority approach) pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengontrol
tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas
melalui penerapan disiplin secara ketat (weber).
2.
pendekatan permisif
mengartikan pengelolaan kelas `adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk
memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan
yang mereka inginkan. Dan fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi
siswa merasa aman untuk melakukan aktifitas di dalam kelas.
3.
pendekatan modifikasi tingkah
laku. Pendekatan ini didasarkan pada pengelolaan kelas merupakan proses
perubahan tingkah laku, jadi pengelolaan kelas merupakan upaya untuk
mengembangkan dan memfasilitasi perubahan prilku yang bersifat positif dari
siswa dan dan berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau memperbaiki
prilaku negative yang dilakukan oleh siswa.
Menurut
Syaiful Bahri Djamara dalam sebuah bukunya yang berjudul “Guru dan Anak Didik
dalam Interaksi Edukatif” bahwa, manajemen kelas adalah suatu upaya
memperdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin
untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut
Suharismi Arikunto, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan maksud agar
dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang
diharapkan.
Dari
beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan arti dari manajemen kelas
adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar
mengajar dengan maksud agar dapat dicapai suatu kondisi yang optimal sehingga
dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
B.
Komponen- komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
Komponen-komponen
keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian,
yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal (bersifat preventif ) dan keterampilan yang berhubungan
dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan
perhatian kelompok. Keterampilan suka tanggap ini dapat dilakukan dengan cara;
memandangan secara seksama, gerak mendekati, memberi pertanyaaan , dan reaksi
terhadap gangguan dan ketakacuhan. Yang termasuk kedalam ketakacuan. Yang
termasuk kedalam keterampilan memberi perhatian adalah visual dan verbal.
Tetapi memberi tanda, penghentian jawab, pengarahan dan petunjuk yang jelas,
penghentian, penguatan, kelancaran, dan kecepatan, merupakan sub bagian dari
keterampilan pemusatan perhatian kelompok.
Masalah
modifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan
serta memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah, adalah tiga buah
strategi yang termasuk kedalam ruang lingkup keterampilan yang berhubungan
dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal. Semua
kegiatan yang disebutkan diatas akan diperjelas dan diperdalam via uraian
berikut ini.
a. Keterampilan yang
berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
(bersifat prevetif).
Keterampilan
ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan
mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan
keterampilan sebagai berikut:
1.
Sikap tanggap
Seorang
guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada
siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud
tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku
susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa
ia hadir berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau
tidak ada perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di
belakang kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik walaupun guru
sedang menulis di papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
1)
Memandang secara seksama
Memandang
secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam
pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa
persahabatan.
2)
Gerak mendekati
Gerak
guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan,
minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak
didik. Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk
menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan dan hukuman.
3)
Memberi pernyataan
Pernyataan
guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik
berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah
dihindari hal-hal yang menunjukan dominasi guru, misalnya dengan komentar atau
pernyataan yang mengandung ancaman seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”.
“saya atau kalian yang keluar?” atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran
saya, silakan keluar!”.
4)
Memberi reaksi terhadap
gangguan dan ketakacuhan
Kelas
tidak selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan
jangan dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak
didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat
pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.
2.
Membagi perhatian
Kelas
diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang
berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru.
perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu
yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata
kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi
perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama
agar pengelolaan kelas menjadi efektif.
Membagi
perhatian dapat dilakukan dengan cara:
a)
Visual
Guru
dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian
rupa sehingga ia dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada
kegiatan pertama. Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak
didik atau anak didik secara individual.
b)
Verbal
Guru
dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap
aktivitas anak didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada
aktivitas anak didik yang lain.
3.
Pemusataan perhatian kelompok
Munculnya
kelompok informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam
kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan
perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas
yang harus diselesaikan. Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan
mempertahankan perhatian anak didik dan memberitahukan (dapat dengan
tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau subkelompok yang
terdiri dari tiga sampai empat orang. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat
guru lakukan, yaitu:
a.
Memberi tanda
Dalam
memulai proses belajar mengajar guru memusatkan pada perhatian kelompok
terhadap suatu tugas dengan memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau
membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan atau topik
dengan memilih anak didik secara random untuk meresponnya.
b.
Pertanggungan jawab
Guru
meminta pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan keterlibatannya dalam
suatu kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggung
jawab terhadapkegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalny, dengan
meminta kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.
c.
Pengarahan dan petunjuk yang
jelas
Guru
harus sering kali memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam
memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kebingungan pada
diri anak didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota
kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan
yang jelas.
d.
Penghentian
Tidak
semua gangguan tingkah laku dapat dicegah atau berhasil dihindari. Yang
diperlukan disini adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang
nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktiv dalam kegiatan di kelas. Bila
anak didik menyela kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara
verbal mengomeli atau menghentikan gangguan anak didik itu.
Cara
lain untuk menghentikan gangguan, adalah guru dan anak didik membuat
persetujuan mengenai prosedur dan aturan yang merupakan bagian dari pelaksanaan
rutin proses belajar mengajar, sehingga menghentikan gangguan berubah menjadi
hanya memperingatkan. Cara mengomeli kurang dibenarkan dalam pendidikan, sebab
tidak mendidik.
a.
Penguatan
Untuk
menanggulangi anak didik yang mengganggu atau tidak melakukan tugas, dapat
dilakukan dengan pemberian penguatan yang dipilih sesuai dengan masalahnya.
Penggunaan penguatan untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial
untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau yang tidak melakukan
tugas.
b.
Kelancaran (smoothnees)
Kelancaran
atau kemajuan anak didikdalam belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat
memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Hal ini perlu
guru dukung dan jangan diganggu dengan hal-hal yang bisa membuyarkan
konsentrasi anak didik. Ada sejumlah kesalahan yang harus guru hindari, yaitu:
campur tangan yang berlebihan (teacher Instruction), kelenyapan (Fade away),
penyimpangan (Digression), dan ketidaktepatan berhenti dan memulai kegiatan.
c.
Kecepatan (Pacing)
Kecepatan
disini diartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu
pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan penyajian
bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau kemajuan tugas. Ada dua kesalahan
kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan,
yaitu: Bertele-tele (overdwelling) dan mengulangi penjelasan yang tidak perlu.
4.
Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
Untuk
mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan diatas, juga
memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas
guru adalah memaparkan setiap pelaksanaan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk
pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
5.
Menegur
Permasalahan
bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.
Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran,
sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran
yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari
hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa
tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya.
6.
Memberi penguatan
Penguatan
adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku
yang baik dan dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau
dapat ditularkan kesiswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa
reward yang bersifat nonmaterial juga yang bersifat material tapi tidak
berlebihan .
b. Keterampilan
yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan
ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan
dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan
kondisi belajara yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan
gangguan yang berulang –ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan
tanggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor
sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah
kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak
didik dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan
seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik
yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas
kelas. Strategi itu adalah:
1.
Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi
tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan
kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang penilaian
yang kurang baik. Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami
masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan
mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
2.
Pengelolaan kelompok
Kelompok
kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian pencapaian
tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa
muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan , gender dan
lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran
maka kelompok yang ada dikelas itu harus dikelola dengan baik oleh guru. Guru
dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:
a)
Memperlancar tugas-tugas:
Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
b)
Memelihara kegiatan-kegiatan
kelompok: Memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik
yang timbul.
3.
Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan
memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu
permasalahan akan muncul didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi
oleh dampak pengiring yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat
dapat melakukan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang
muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan
tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus
datang mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya
mengambil langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.
c. Hal-hal yang harus dihindari
Dalam usaha mengelola
kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru,
yaitu sebagai berikut.
1)
Campur tangan yang berlebih (teachers instruction)
Apabila guru menyela kegiatan yang sedang asyik
berlangsung dengan komentar, pertanyaan, atau petunjuk yang mendadak,
kegiatan itu akan terganggu atau terputus. Hal ini akan memberi kesan kepada
siswa bahwa guru tidak memperhatikan keterlibatan dan kebutuhan anak. Ia hanya
ingin memuaskan kehendak sendiri.
2)
Kelenyapan (fade away)
Hal ini terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi
suatu instruksi, penjelasan, petunjuk, atau komentar, dan kemudian menghentikan
penjelasan atau sajian tanpa alasan yang jelas. Juga dapat terjadi dalam bentuk
waktu diam yang terlalu lama, kehilangan akal, atau melupakan langkah-langkah
dalam pelajaran. Akibatnya ialah membiarkan pikiran siswa mengawang-awang,
melantur, dan mengganggu keefektifan serta kelancaran pelajaran.
3)
Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri
kegiatan (stops and stars)
Hal ini dapat terjadi bila guru memulai suatu
aktivitas tanpa mengetahui aktivitas sebelumnya menghentikan kegiatan pertama,
memulai yang kedua, kemudian kembali kepada kegiatan yang pertama lagi. Dengan
demikian guru tidak dapat mengendalikan situasi kelas dan akhirnya mengganggu
kelancaran kegiatan belajar siswa.
4)
Penyimpangan (digression)
Akibat guru terlalu asyik dalam suatu kegiatan atau
bahkan tertentu memungkinkan ia dapat menyimpang. Penyimpangan tersebut dapat
mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.
5)
Bertele-tele (overdweiling)
Kesalahan ini terjadi bila pembicaraan guru
bersifat mengulang-ulang hal-hal tertentu, memperpanjang keterangan atau
penjelasan, mengubah teguran sederhana menjadi ocehan atau kupasan yang
panjang.
DAFTAR
PUSTAKA
Asril, Zainal. 2010. Microteaching. Padang. PT. Raja Grafindo Persada.
Bahri Djamara, Syaiful dan Zain,
Aswan. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rineka Cipta 2006). Cet.
Ke-6
Rukmana, Ade dan Suryana, Asep. Pengelolaan
Kelas. (Bandung: Upi Press 2006). Cet. Ke-1
file.upi.edu/.../Keterampilan_Mengelolah_Kelas.pdf
Materinya sangat bermanfaat
BalasHapusMaterinya bagus sekali kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapusmaterinya bagus, semoga bisa diterapkan
BalasHapusterimakasih, sangat membantu sekali materinya
BalasHapus